KH Adrian Mafatihullah Kariem: Santri Harus Punya Akhlak Luhur dan Mental Kuat

PantauNusantara.com JAKARTA – Santri sejati bukan hanya punya pengetahuan keagamaan yang baik, melainkan punya akhlak yang luhur dan mental yang kuat. Kekuatan mental santri yang dibentuk dari nilai-nilai keikhlasan, akan menjadikan santri punya jiwa kemandirian dalam mengarungi kehidupan di tengah masyarakat. Kalau perlu, seorang santri harus punya nilai seribu orang. Annasu alfun minhum ka wahidin wa wahidun ka alfin in amrun ana.

Demikian dikatakan Pengasuh Pondok Pesantren La Tansa, KH Adrian Mafatihullah Kariem di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, dalam acara Khusyu’ Negeriku: Panggung Azan, 15-16 Oktober 2018. Acara yang diselenggarakan dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional 2018 itu dihadiri oleh para santri, seniman, budayawan, pejabat negara dan tokoh masyarakat. Hadir antara lain: Ridwan Saidi, Radhar Panca Dahana, Nanang Tahqiq, Chavchay Syaifullah, Pramudya Ardanta, Imbong Hasbullah, Dinaldo, Imam Ma’arif, Uki Bayu Sedjati, AR Tanjung, Arif Conte, Guntur Wibowo, dan Syis Paindow.

“Kesuksesan santri tidak bisa diukur dari prestasi-prestasi yang diraihnya di dalam pesantren saja, melainkan dari seberapa jauh pengabdiannya di tengah masyarakat. Santri harus bisa menjadi tulang punggung perjuangan agamanya, masyarakatnya, bangsanya, dan negaranya,” tegas Kyai Adrian.

Dalam acara Khusyu’ Negeriku: Panggung Azan yang diprakarsai Pondok Pesantren La Tansa bekerjasama dengan Walicare dan Dewan Kesenian Banten terdapat sejumlah kegiatan, yaitu: Lomba Azan Antar Pesantren, Pameran Lukisan Azan, Pameran Robotic Azan, Renungan Budaya, Deklamasi Puisi, Instrumentalia Azan, dan Pentas Teater Azan.

Kepada para santri yang hadir dari berbagai pesantren di Indonesia dalam acara Lomba Azan Antar Pesantren, Kyai Adrian tak lupa berpesan agar santri mau mempelajari berbagai ilmu pengetahuan untuk bisa mengisi berbagai ruang perjuangan kemajuan bangsa dan negara.

“Tidak semua santri mesti jadi Kyai, namun harus ada yang menjadi ahli di bidang ekonomi, politik, teknologi, pemerintahan, juga seni dan budaya. Intinya, santri harus bisa menjadi satu tapi bernilai seribu,” tutur Kyai Adrian yang telah menerbitkan buku Lepas dari Lapas Hidup dan Surabi Pesantren.

Pondok Pesantren La Tansa merupakan pesantren yang didirikan oleh Almarhum KH Ahmad Rifa’i Arief pada 9 Januari 1991 di Parakansantri, Lebakgedong, Lebak, Banten. Sejak tahun 2017, Pesantren La Tansa telah mengembangkan sayapnya dengan membuka Pesantren La Tansa 2 yang berlokasi di Kampus La Tansa Mashiro, Rangkasbitung, Lebak, Banten dan Pesantren La Tansa 3 (Kun Karima) di Majasari, Pandeglang, Banten. Sementara Pesantren La Tansa 4 dan La Tansa 5 yang berlokasi di Cipanas, Lebak, sedang dalam proses pembangunan.***

Muhammad Fadhilah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *