Pengelola Pijat Reflexy Diseret ke Pengadilan


PantauNusantara.com KOTA TANGERANG – Dua pengelola pijat reflexy di wilayah Kecamatan Karawaci dan Cibodas — Rita dan Sumariah — diseret ke Pengadilan Negeri Tangerang oleh Bidang Gakumda Satpol PP Kota Tangerang, Selasa 12 Maret 2018.

Kedua pengelola itu dihadirkan dalam sidang Tindak Pidana Ringan (Tipiring) karena melanggar Perda 8/2005, tidak memiliki ijin dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta menabrak Surat Edaran Disbudpar Nomor: 556/135-Disbudpar Perihal Penutupan Sementara Operasional Usaha Jasa Hiburan Umum Pada Hari Besar Keagamaan Selama Tahun 2019.

Dalam sidang yang dipimpin hakim Edy Purwanto dan jaksa Erlangga itu, kedua pengelola tempat pijat itu dinyatakan bersalah sehingga diganjar denda masing-masing satu juta rupiah subsider hukuman kurungan tiga hari. Sementara itu Teguh, pedagang kaki lima dikenakan denda Rp100 ribu.

Kepala Bidang Penegakan Produk Hukum Daerah Satuan Polisi Pamong Praja (Kabid Gakumda Satpol PP) Kota Tangerang menjelaskan, pengelola pijat reflexy itu saat malam menjelang Hari Raya Nyepi tetap melakukan aktivitas. Hasil monitoring Tim Kalong Wewe, Rabu malam 6 Maret 2019 Pijat Reflexy Tradisional Cemara di wilayah Kecamatan Cibodas dan Pijat Reflexy Shinta di wilayah Kecamatan Karawaci buka seperti biasa.

“Pijat Reflexy Shinta di wilayah Kecamatan Karawaci, di dalam ruangan itu tim mendapati terafis sedang melayani konsumen dengan berhubungan badan layaknya sepasang suami istri.

“Ini praktek prostitusi. Terafisnya sudah kami serahkan ke panti rehabilitasi Pasar Rebo, Jakarta Timur,” ungkap Kabid Gakumda Satpol PP Kota Tangerang, Kaonang, Selasa 12 Maret 2019.

Di situ juga, sambung Kaonang Tim Kalong Wewe Gakumda mendapati alat kontrasepsi dan uang Rp200 ribu hasil transaksi hubungan badan. Kaonang berharap, dengan diajukannya pengelola tempat pijat ke pengadilan dan disidangkan dalam sidang Tipiring dapat menimbulkan efek jera.

Sementara itu pemerhati kebijakan Tangerang LIVE, Yahya Suhada mengapresiasi sikap tegas Kalong Wewe Gakumda yang dipimpinan Kaonang telah menyeret dua pengelola tempat prostitusi yang berkedok reflexy.

Menurut Yahya Suhada, sudah jelas kebandelannya para pengusaha tempat esek-esek tersebut, jangankan untuk mengikuti aturan, hanya  untuk menghormati hari besar keagamaan saja mereka tidak hiraukan.

“Hal ini selain melanggar Perda juga telah melanggar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 296 tentang prostitusi,” tegas Yahya.

Yahya Suhada menegaskan hal itu sudah mencederai moto kota Tangerang yang berakhlakul karimah. Dengan kejadian ini tokoh muda Kota Tangerang ini mengajak masyarakat agar turut berpartisipasi dalam pengawasan tempat-tempat tersebut, dan dapat melaporkannya ke pihak yang berwenang.***
Ateng San

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *