Ekonomi

Tahun Politik, Pengusaha Konveksi Banjir Pesanan Kaos Partai

Pantaunusantara.com, TANGERANG – Memasuki pesta demokrasi pada pemilihan umum tahun 2019, sejumlah kader partai pemilu mulai dari calon legislatif tingkat daerah/kota madya, provinsi dan pusat, bahkan pemilihan calon presiden dan wakil presiden, bahu membahu untuk bekerja meningkatkan simpati masyarakat lewat kampanye simpatik yang mereka bangun. Kampanye tersebut dipublikasikan lewat berbagai alat peraga kampanye lainnya, seperti kaos, baju, spanduk, topi hingga pemasangan bendera.

Maraknya pembuatan kaos tersebut, membuat pengrajin tekstil baik rumahan dan perusahaan besar, kini berlomba-lomba untuk memberikan hasil yang maksimal dan berkualitas dengan harga yang terbilang rendah.

Seperti yang dialami oleh Johansyah, pengrajin pembuatan kaos, bendera untuk alat peraga kampanye. Ia mengaku dirinya kerap menerima pesanan kaos partai maupun caleg dalam skala besar. Untuk memenuhi kebutuhan konsumen, Johansyah terbiasa menerima pesanan dengan deadline dan target yang berkualitas.

“Pesanan kaos dari partai dan caleg telah banyak masuk. Termasuk dari tim pemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Saya sudah mempersiapkan semuanya. Mulai dari pengrajin, karyawan dan bahan-bahan berkualitas lainnya. Soal harga, kami dapat bersaing dan dijamin dengan kualitas terbaik,” ucap Johansyah. Selasa (20/11/2018) Perlu diketahui, Johansyah telah berpengalaman membuka workshop konveksi. Tempat usahanya terletak di bilangan Tangerang. Untuk pesanan kaos dan baju partai bisa langsung menghubungi di nomor handphone 087801055748

Mahasiswa Diajak Peduli Industri Hulu Migas

PantauNusantara.com JAKARTA – Dalam rangka menambah wawasan dan pemahaman mahasiswa, LPPM STIKOM Interstudi bekerjasama dengan SKK migas menggelar seminar Hulu Migas Goes to Campus dengan tema Perspektif Media dalam Kebijakan Komunikasi Sektor Migas di Era Industri 4.0 di Aula Interstudi, Senin 5 November 2018.

Hadir sebagai pembicara Lead Communication Specialist SKK Migas – Ryan B Wurdjantoro, Pemimpin Redaksi Mediaindonesia.com, Abdul Kohar dan dipandu oleh jurnalis Kompas TV – Woro Windarti.

Dalam pemaparannya, Ryan Wurdjantoro mengajak mahasiswa untuk memahami dan peduli dengan industri migas nasional. Menurutnya, Mahasiswa merupakan agen perubahan yang perlu diberikan informasi yang tepat dan akurat.

“Saat ini banyak sekali beredar kabar dan informasi di media sosial yang belum tentu kebenarannya. Untuk itu, jika mahasiswa mampu memiliki pemahaman yang baik, minimal mampu memberikan informasi yang akutat terkait industri hulu migas,”ujarnya.

Menurutnya, meski mungkin informasi yang diberikan dianggap kurang menarik, namun dengan sosialisasi yang terus menerus dan berkelanjutan diharapkan mampu memberikan pemahaman tentang industri migas.

Ditempat yang sama, Ketua LPPM STIKOM Interstudi Poppy Ruliana menyampaikan terimakasihnya kepada SKK migas yang telah memberikan pemaparannya terkait industri hulu migas di Indonesia.

Popi berharap, melalui seminar ini mampu mendorong terjadinya pertukaran informasi, pengetahuan dan pengalaman dalam implementasi industri 4.0 berdasar praktik-praktik yang benar atau best practice untuk meningkatkan keberhasilan SKK Migas.

Selain itu, diharapkan bisa meningkatkan awareness terhadap usaha pengembangan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi guna mendukung keberhasilan implementasi industri 4.0

“Sehingga mahasiswa dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang penerapan tatakelola media digital yang selaras dengan birokrasi pemerintah untuk mendukung tranformasi”, tutup Poppy.***

Ateng Sanusih | Yahya Suhada

Siswa SMA Berinovasi Membuat Makanan Berbahan Dasar Leunca dan Daun Pepaya

PantauNusantara.com KABUPATEN TANGERANG – Dalam rangkaian kegiatan Food Explore 11 yang diadakan Program Studi (Prodi) Teknologi Pangan Universitas Pelita Harapan (UPH), siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) ikut memeriahkan lomba Inovasi Bersyarat yang berkonsep membuat makanan dari bahan dasar leunca dan daun pepaya. Bahan makanan tersebut sesuai dengan tema ‘Food Local Wisdom & Global Trends’ yang diangkat Food Explore tahun ini.

Para peserta Inovasi Bersyarat ini berbentuk kelompok yang masing-masing beranggotakan lima orang. Lomba kali ini dikuti enam sekolah di sekitar Jabodetabek yang menampilkan sembilan produk inovasi buatan mereka. Lomba ini diadakan pada Kamis, 1 November 2018 di samping Lapangan Basket UPH dengan kriteria penilaian yang terdiri dari proposal, presentasi, video, produk, dan penjurian booth. Ada pula juara favorit berdasarkan hasil voting umum dari para pengunjung yang datang sejak pameran dibuka pukul 10.00 hingga 14.30 WIB.

Selain mencicipi makanan, para pengunjung juga bisa mendapatkan penjelasan tentang masing-masing makanan, mulai dari proses pembuatan, komposisi bahan, hingga manfaat makanan tersebut. Dekorasi booth, nama produk, dan cara pengemasannya juga tak luput dari perhatian para pengunjung yang datang.

Salah seorang peserta dari Bina Nusantara School Tangerang (Team B), Yip San, terlihat sangat antusias menjelaskan produk inovasi mereka yang bernama Papaylicious. Makanan ini menggabungkan daun pepaya sebagai bahan pangan tradisional dengan salted egg yang berkonsep kekinian. Yang menarik, tim ini membuat sendiri salted egg tersebut, sehingga bebas dari bahan-bahan kimia.

“Kami memakai kuning telur dari telur asin. Pertama-tama kuning telur tersebut dimasukkan ke dalam oven sampai kering, setelah itu kami jadikan bubuk. Selanjutnya kami merebus daun pepaya untuk menghilangkan rasa pahitnya. Lalu daun tersebut kami oven dengan suhu 150 derajat selama 5-10 menit. Daun ini tidak digoreng untuk mengurangi penggunaan minyak. Setelah selesai, daun pepaya kami taburi dengan bubuk salted egg tadi,” ujar Yip San.

Dirinya juga mengaku tertarik untuk melanjutkan studi ke Prodi Teknologi Pangan UPH karena lewat ilmu teknologi pangan tersebut bisa memacu kreativitasnya dalam membuat inovasi makanan.

Senada dengan itu, Amel, anggota tim dari SMA Atisa Dipamkara, mengungkapkan bahwa dengan mengikuti lomba ini, dirinya jadi semakin tertarik melanjutkan studi ke Prodi Teknologi Pangan, dan UPH menjadi salah satu pilihannya mengingat belum banyak universitas lain yang membuka prodi sejenis.

Produk buatan tim SMA Atisa Dipamkara sendiri adalah es krim dan biskuit dari bahan leunca. Aura, anggota tim lainnya menjelaskan tentang produk ini.

“Kami membuat es krim dari bahan sari leunca, dan biskuit dari kulit leunca. Kami memilih leunca karena masih belum banyak yang mengetahui bahan pangan ini. Bahkan setiap pengunjung di booth kami, pasti bertanya ‘leunca itu apa sih?’ Jadi kami ingin semakin banyak orang yang tahu tentang bahan leunca ini,” ungkap Aura.

Ada pula tim dari SMA Tarsisius I Jakarta yang membuat bakso daging sapi dengan campuran daun pepaya. “Bakso adalah makanan terkenal asal Indonesia. Kami memilih konsep bakso yang dicampur daun pepaya agar bisa dinikmati oleh semua kalangan, termasuk anak-anak. Jadi bagi anak-anak yang tidak suka sayuran, makanan ini bisa menjadi salah satu solusinya,” ujar Natasha, anggota tim SMA Tarsisius 1.

Natasha juga menambahkan, sebagai siswa kelas XII, ia mulai memikirkan untuk mengambil Prodi Teknologi Pangan saat kuliah nanti, dan UPH menjadi salah satu pilihan utama karena kualitasnya yang sudah diketahui masyarakat. ***

Berikut daftar sekolah beserta nama produk inovasi dalam Lomba Inovasi Bersyarat Food Explore 11:

1. Chips Daun Pepaya Telur Asin (Papaylicious), Bina Nusantara School Serpong (Team B)
2. Freely (Permen Leunca), SMA Tarakanita Gading Serpong (3)
3. R.E.S.E.P, Sekolah Citra Berkat
4. PapaFan (Chee Cheong Fan Daun Pepaya), SMA Tarakanita Gading Serpong (2)
5. Keripik Daun Pepaya, Jakarta Nanyang School
6. Ice Cream & Cookie (Le Unca), SMA Atisa Dipamkara
7. Rendang Bola Daun Pepaya, Bina Nusantara School Serpong (A)
8. Papechi (Mochi Daun Pepaya), SMA Tarakanita Gading Serpong (1)
9. MeatPapz (Bakso Sapi dengan Daun Pepaya), SMA Tarsisius 1

Daftar para pemenang Lomba Inovasi Bersyarat Food Explore 11:

• Juara 1: SMA Tarakanita Gading Serpong (3) – Freely
• Juara 2: SMA Tarsisius I Jakarta – MeatPapz
• Juara 3: SMA Tarakanita Gading Serpong (1) – Papechi
• Best Video: SMA Atisa Dipamkara – Ice Cream & Cookie
• Juara Favorit: SMA Atisa Dipamkara – Ice Cream & Cookie

• Ateng Sanusih

Naik Motor, Presiden Jokowi Blusukan ke Pasar Anyar di Tangerang

PantauNusantara.com KOTA TANGERANG -Hari kedua kunjungan kerjanya ke Provinsi Banten, Minggu, 4 November 2018, Presiden Joko Widodo blusukan ke pasar tradisional. Kali ini, giliran Pasar Anyar, Kota Tangerang, Provinsi Banten yang disambangi Presiden.

Menariknya, kali ini Presiden mengendarai sepeda motor custom untuk menuju ke pasar. Adapun sepeda motor yang ditungganginya adalah Kawasaki W175 beraliran tracker dan berwarna dominan hijau.

Sekira pukul 06.15 WIB, bersama Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Wali Kota Tangerang Arief Wismansyah, dan Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar, Presiden mulai mengendarai sepeda motor dari sekitar Jalan MH Thamrin, Kota Tangerang.

Di sepanjang jalan, tak sedikit masyarakat yang antusias menyapa, Presiden pun membalas sapaan mereka dengan melambaikan tangan dan tersenyum.

Setibanya di pasar sekira pukul 06.33 WIB, kedatangan Presiden disambut riuh para pedagang dan pembeli. Mereka langsung mengerubuti Presiden untuk bersalaman dan berswafoto.

Presiden kemudian berjalan ke dalam pasar untuk mengunjungi para pedagang, antara lain sayuran, buah-buahan, ayam, telur, hingga daging. Di setiap lapak pedagang yang dikunjungi, Presiden berbincang dengan para pedagang dan bertanya kondisi harga di pasar.

“Yang pertama kita kan ada angka inflasi rendah di bawah 3,5 (persen), saya ingin cek di lapangan. Sama enggak? Setelah cek semua stabil,” kata Presiden selepas peninjauan.

Berdasarkan pengamatan Kepala Negara, beberapa komoditas di pasar harganya stabil. Beberapa bahkan mengalami penurunan, misalnya telur dari Rp30 ribu per kilogram menjadi Rp20 sampai Rp 22 ribu per kilogram. Harga beras bervariasi antara Rp8 ribu sampai Rp12 ribu, tergantung kualitas. Sementara tempe harganya stabil di Rp5 ribu.

“Beli semuanya. Beli petai, tempe, tahu, ikan. Daging Rp120 ribu. Melinjo, cabai Rp30 ribu, padahal kalau naik bisa Rp80 ribu,” lanjutnya.

Menurut Presiden, fluktuasi harga di pasar adalah hal yang biasa. Ia pun berharap tidak ada pihak-pihak yang mengatakan hal yang sebaliknya dengan kondisi harga sebenarnya di pasar.

“Nanti pedagang pasar marah, semua harga stabil enggak berubah. Banyak yang turun, satu dua naik, fluktuatif biasa. Daging naik dikit, telur turun, biasa. Jangan teriak di pasar naik, pedagang pasar marah enggak ada yg beli iya ndak? Malah datang ke mal,supermarket. Jadi kalau ke pasar liat fakta yang ada, harga sampaikan apa adanya,” imbuhnya.

Presiden menuturkan, selain harga yang paling penting adalah kondisi pasar yang harus tertata, bersih, tidak becek, tidak bau, dan memiliki tempat parkir. Dengan demikian, pasar tradisional bisa tetap bersaing dengan supermarket.

“Sudah sepakat dengan wali kota, tahun depan akan kami revitalisasi. Nanti pembagian (pembiayaan) pusat dan daerah,” ujarnya.

Selesai meninjau dan berinteraksi dengan pedagang dan pembeli di Pasar Anyar, sekira pukul 07.30 WIB, Presiden meninggalkan lokasi. Ia berkendara sepeda motor kembali dan melanjutkan perjalanan ke agenda kerja berikutnya.***

Ateng Sanusih | Muhammad Fadhilah