Opini

Syukuran Kemenangan Jokowi, Relawan Bagikan Takjil dan Santunan Anak Yatim

BANTEN-Dewan Pimpinan Wilayah Jangkar Bojo Jokowi Provinsi Banten mengadakan buka bersama dan syukuran atas kemenangan Jokowi dalam pemilu, (2/6) kegiatan ini diadakan diadakan di Kampung Kadomas Kabupaten Pandeglang.

Selain syukuran dan buka puasa bersama dengan seluruh pengurus Jangkar Bejo Provinsi Banten, kegiatan itu juga dibarengi dengan santunan anak yatim dan pembagian takjil kepada warga sekitar.

Pada kesempatan itu, Humaedi Ketua Jangkar Bejo Kabupaten Serang menyampaikan bahwa monen bulan puasa ini, dapat dimanfaatkan untuk saling menguatkan dalam membangun rasa persatuan dan kesatuan terutama di masyarakat.

“Pesta Demokrasi telah selesai, kini saatnya kita bersama-sama membangun bangsa ini, sekarang tidak ada lagi, 01 atau 02 yang ada sekarang adalah bangsa Indonesia”terang Humaedi.

Sementara itu, di tempat yang bersamaan, Ketua Jangkar Bejo Pandeglang Mohamad Robi berharap kepada Presiden terpilih Jokowi-Ma’aruf Amin ke depan agar bisa menuntaskan menuntaskan kemiskinan khususnya di Banten.

“Harapan saya, di periode kedua Jokowi ini, Di Banten sudah tidak ada lagi masyarakat yang miskin karena tidak bisa mengenyam pendidikan, akses kesehatan dan pendidikan”tutur Robi.

Dikatakan Robi, Jangkar bejo di kepemimpinan Jokowi yang kedua ini, akan ikut terlibat mengawal setiap program-progran pemerintah yang telah dijalakan agar bisa dirasakan oleh masyarakat. Menurut Robi salah satu yang harus kita kawal ialah tentang Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan BPJS Mandiri yang masih belum tepat sasaran.

“Pokonya kita akan ikut kawal semua program pemerintah yang berpihak pada rakyat,”tungkas Robi.

PROGRAM UNGGULAN MESTI TERUNGGUL DI PONDOK PESANTREN MODERN AL BAYYINAH

Pada umumnya, lembaga pendidikan kepesantrenan pasti akan mempelajari ilmu-ilmu keagamaan sekaligus ilmu-ilmu iptek atau umum. Yaitu Khususnya pada lembaga-lembaga pendidikan pesantren modern. Hal demikian sebagai bagian dari cara memadukan antara materi kepesantrenan dan nasional.

Di era yang serba canggih dan modern, serta seiring perkembangan zaman, kelembagaan pesantren dituntut untuk bisa mencetak para alumninya dengan segudang skill atau kemampuan sebagai bekal di aneka lini kehidupan. Di samping itu, pesantren dituntut untuk tetap memelihara tradisi-tradisi lokal sebagai nilai terbaik yang tetap harus dipertahankan kapan dan dimana pun juga.

Salah satu program unggulan yang dimiliki pondok pesantren modern Al Bayyinah adalah program Tahfidz Al Quran Al Karim. Pesantren yang berlokasi di Cisoka Tangerang Banten ini menggenjot bidang unggulannya dalam Tahfidz Al Quran dengan program regular dan Takhossus.

Program Tahfidz regular adalah program wajib Tahfidz Al quran bagi seluruh santriwan dan santriwati dengan menghapal 1 tahun 1 juz. Dengan istilah lain “one year one juz”. Santri wajib selesai menghapal Al quran setiap tahun 1 juz. Di mulai dari juz 30, 29 sampai juz 1 dari awal Al Baqarah dan seterusnya. Dengan demikian setiap santri dikala naik kelas, maka secara otomatis ia akan masuk ke jenjang hapalan juz selanjutnya pula.

Sedangkan Tahfidz Takhossus adalah model tahfidz yang mewajibkan santri untuk menghapal Alquran setiap tahun 5 juz. Mereka adalah para santri yang diseleksi melalui tes lanjutan untuk bisa ikut serta program Takhossus. Sehingga para santri yang memulai masuk pondoknya kelas 1 SMP dengan program pondok selama 6 tahun akan menylesaikan hapalan Alqurannya sebanyak 30 juz hingga tuntas.

Tentunya, dengan segudang program unggulan ini agar menjadi terunggul harus didukung oleh sarana pra sarana dan stakeholder atau sumber daya manusia, yaitu para guru yang berpengalaman di bidangnya dan siap membimbing para santri hingga benar-benar mampu para santri dapat mencapai target yang telah ditetapkan oleh pondok.

Pesantren modern Al Bayyinah Cisoka Tangerang memberikan alokasi waktu yang cukup bagi para santri agar dapat mencapai target hapalannya dengan baik. Semua jenis program Tahfidz wajib menghapal dan murojaah ( mengulang hapalan ) pada jam-jam yang telah ditentukan. Di antara waktu-waktu tersebut adalah bada subuh, bada dzuhur, bada asar, bada maghrib dan bada Isya yang telah disesuaikan dengan jadwal harian.

Dibawah ini sebagai contoh jadwal atau waktu menghapal Al quran dan murpja’ahnya ( mengulang hapalan ) dipondok pesantren modern Al bayyinah Cisoka tangerang Banten:

Bila melihat table diatas, pada bagian diwarnai atau tidak tertulis jam, maka dijadikan sebagai waktu untuk jenis kegiatan lain yang berkaitan dengan kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Sehingga tercapai keselarasan antara pengembangan bidang iptek dan imtaq yang sudah menjadi visi misi pondok.

Di antara jenis kegiatan ekstrakurikuler lainnya adalah seperti dalam bidang kebahasaan yaitu diskusi dengan dua bahasa, Arab dan inggris, Majalah dinding dengan 3 bahasa, Indonesia, Arab dan Inggris, pidato dengan 3 bahasa, Indonesia, Arab dan Inggris, percakapan dengan 2 bahasa, arab dan Inggris, lomba cerdas cermat dengan 2 bahasa dan lain sebagainya.

Adapun ekstrakurikuler pada minat bakat lainnya seperti pencak silat dan Taekwondo, Kalighrafi, Marawis, keputrian dan lain sebagainya menjadi bagian kegiatan yang mampu menggerakan dan memaksimalkan dalam menggali potensi setiap santriwan dan santriwati.

Peranan pondok dan para guru adalah mengajar, mendidik dan membimbing. Di mana dengan mengajar seorang guru dituntut untuk menguasai dan terus belajar yang berkaitan dengan keilmuan yang dikuasainya. Sedangkan mendidik seorang guru adalah memberikan keteladan akhlaq yang mulia sebagai bentuk sentralisasi sikap dan ucapan bagi setiap santri. Adapun dengan membimbing adalah sebuah sikap pemantauan dari para guru kepada para santri toytalitas selama 24 jam. Seingga dengan bimbingan yang full diharapkan para santri mampu terpantau segala kekurangan dan kelebihannya. Dengan kekurangannya selalu diperbaiki dan dengan kelebihannya akan selalu diasah oleh para guru yang siap membimbingnya.

Berjubelnya aneka macam kegiatan di pondok pesantren modern Al Bayyinah Cisoka Tangerang menjadi bukti bahwa lembaga tersebut berupaya untuk mencetak generasi Islam yang mumpuni di setiap zaman. Terlebih dengan program Tahfidz regular dan takhossusnya akan menjadi lembaga pondok pesantren beda tersendiri dengan segala kelebihannya. Bahkan stakeholder di pondok pesnatren, terutama bapak pimpinan sebagai pengasuh sekaligus tinktank dari berdirinya podnok tersebut sangat antusias dan optimis, bahwa para santri dengan program tahfidzul Qurannya akan menjadi generasi umatan wasaton di kemudian hari. Dimana manfaat ilmu mereka akan benar-benar dinanti bagi masyarakat luas, bahkan bagi nusa dan bangsa.

Penulis : HENDRI KUSUMA WAHYUDI, Lc. Penulis adalah pimpinan dan pemgasuh pada pondok pesantren modern Al Bayyinah. Dan beliau merupakan alumnus universitas Al Azhar Kairo Mesir. Cp/WA        : 082177406693. FB: hendri kusuma wahyudi             https://www.facebook.com/hendri.k.wahyudi

Label “Unskilled Labor” Di Balik Rencana Alokasi Dana Vokasi

Oleh: Musrianto

Dikabarkan bahwa Pemerintah dalam hal ini Kementrian Tenaga Kerja Republik Indonesia dan Pengusaha tengah mengupayakan adanya alokasi dana untuk peningkatan produktiftas yang akan dikelola oleh sebuah Komite Pelatihan Vokasi Nasional.

Menurut keterangan Anton J Supit selaku Ketua Bidang Peternakan dan Perikanan APINDO, dana tersebut nantinya digunakan untuk memberikan pendidikan vokasi tambahan bagi buruh pabrik yang belum memiliki keahlian khusus. (baca: https://www.liputan6.com/bisnis/read/3694671/pemerintah-dan-pengusaha-bakal-alokasikan-dana-biar-buruh-lebih-produktif)

Dalam konteks tertentu, penulis cukup memberikan apresiasi atas upaya adanya pemberian pendidikan bagi buruh dalam rangka meningkatkan sumber daya dan atau kemampuan. Namun demikian penulis cukup prihatin dan berkeberatan apabila upaya alokasi dana untuk vokasi sebagaimana dimaksud, semata-mata dilatarbelakangi oleh karena pandangan pemerintah dan pengusaha bahwa seolah-olah kemampuan dan produktiftas buruh Indonesia rendah.

Pernyataan-pernyataan demikian bukanlah sesuatu hal yang baru, sejak orde baru pernyataan tentang kemampuan (skil) dan produkstifitas rendah selalu digaungkan oleh kalangan pengusaha. Padahal menurut pendapat penuis, banyak faktor yang turut serta menghambat peningkatan produktifitas itu sendiri. Diantaranya adalah penggunaan tenaga kerja yang bersifat temporer atau jangka waktu tertentu, manajemen yang buruk dan lebih mengutamakan efisiensi.

Pengertian Produktivitas

Menurut Nasution (2002:203) “Produktivitas merupakan rasio antara hasil kegiatan (output) dan segala pengorbanan (biaya) untuk mewujudkan hasil (input). Dimana peningkatan produktivitas akan meningkatkan pendapatan karyawan yang akan menambah daya beli masyarakat”.

Selanjutnya Render, Heizer (2002:14) menjelaskan bahwa “Produktivitas adalah perbandingan yang naik antara jumlah sumber daya yang dipakai (input) dengan jumlah barang dan jasa yang dihasilkan”

Sedangkan menurut Herjanto (1999:11) “Produktivitas merupakan ukuran bagaimana baiknya suatu sumber daya diatur dan dimanfaatkan untuk mencapai hasil yang diinginkan”

Sinungan (2005), secara umum menberikan pengertian produktivitas yaitu suatu konsep yang bersifat universal bertujuan menyediakan lebih banyak barang dan jasa untuk lebih banyak manusia, dengan menggunakan sumber-sumber riil yang makin sedikit.

Berdasarkan pendapat-pendapat disimpulkan bahwa produktivitas kerja merupakan ukuran bagaimana baiknya suatu sumber daya diatur dan dimanfaatkan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas.

  1. Manajemen yang buruk
    Manajemen yang tidak efektif menurunkan produktivitas perusahaan dari segala arah. Strategi keseluruhan bisa menyebabkan inefisiensi karena manajer tidak melihat dan mengambil langkah untuk menerapkan cara paling produktif untuk menyelesaikan tugas. Buruh akan kepayahan di bawah manajemen yang buruk. Mereka tidak memiliki kebebasan dan pembinaan untuk mencapai potensi penuh mereka, jadi mereka tidak melakukan upaya sebanyak yang mereka bisa. Buruh yang merasa bahwa usaha mereka “tidak dianggap” oleh atasannya tidak bekerja maksimal.
  2. Sistem yang kuno
    Ketika sebuah perusahaan menggunakan metode lama dan kaku untuk mencapai tujuan, produktivitasnya akan menurun secara signifikan. Ambil contoh, jika satu perusahaan lain menggunakan perangkat otomatis untuk merekam dan melacak data, sementara perusahaan mengumpulkannya dengan tangan, produktivitas perusahaan tentu akan jauh lebih rendah, karena membutuhkan lebih banyak waktu.
  3. Ketidakpuasan buruh
    Buruh yang tidak puas terhadap perusahaannya umumnya tidak produktif, sementara buruh yang senang dan bergairah dengan pekerjaan mereka lebih bersemangat untuk menghasilkan. Secara naluri, orang cenderung memprioritaskan tugas yang mereka sukai, sehingga seorang buruh yang menyukai pekerjaannya secara alami akan menempatkan pekerjaannya di atas kegiatan lainnya seperti bersantai atau mengobrol. Mendapatkan buruh yang tepat untuk pekerjaan tersebut dapat menyebabkan buruh dan perusahaan produktif yang puas.
  4. Upah yang tinggi
    Upah yang tinggi akan menimbulkan loyalitas dan produktivitas yang tinggi dari buruh pada perusahaan sehingga mengurangi biaya dalam pengawasan dan akibatnya meningkatkan output perusahaan. Dengan pertimbangan bahwa perusahaan akan lebih banyak mengeluarkan biaya apabila membuka lowongan dan mempekerjakan buruh baru, maka perusahaan dalam hal ini akan memberikan insentif pada pekerjanya dengan upah yang tinggi jauh diatas upah pasar (Kaufman, 2006:268).
  5. Masa Kerja
    Pengalaman kerja seseorang dapat meningkatkan ketrampilannya dalam bekerja sehingga mereka dapat bekerja lebih efisien dan efektif. Model mutu modal manusia memprediksi adanya korelasi antara pengalaman dan pendapatan dimana pada awal masuk ke pasar tenaga kerja, pendapatan yang diterima rendah dan pendapatan akan meningkat dengan pengalaman yang dimiliki dan akan menurun kembali pada akhir masa kerjanya (Borjas, 2005:18).
    Tentunya pengalaman kerja akan ditentukan oleh berapa lama waktu atau masa kerja seorang buruh bekerja diperusahaan, hal ini dapat diketahui dari status hubungan kerja seorang buruh diperusahaan. Produktifitas yang diharapkan tidak akan pernah tercapai, jika status hubungan kerja seoorang buruh dibatasi oleh waktu tertentu.

Penulis adalah Pengurus Pusat Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI)

Editor: Irman

Refleksi Menjelang 100 Tahun Institusi Pemadam Kebakaran Indonesia

• Prof Dr Manlian Ronald A Simanjuntak ST MT DMin

Pada 1 Maret 2019 mendatang, Indonesia akan memperingati 100 tahun Institusi Pemadam Kebakaran Indonesia. Ketika kita memperingati 99 tahun pelayanan Institusi Pemadam Kebakaran Indonesia di kota Ambon 1 Maret 2018 yang lalu, peran Institusi Pemadam Kebakaran (Damkar) dicermati sangat vital dalam rangka mencegah – memadamkan – menanggulangi – mengendalikan bahaya kebakaran yang dapat terjadi setiap waktu.

Secara khusus data yang dihimpun dari berbagai sumber di Provinsi DKI Jakarta, kejadian bahaya kebakaran di Ibukota hingga akhir Oktober 2018 rata-rata terjadi 3-4 kali terjadi dalam satu hari. Jadi bahaya kebakaran bukan mungkin terjadi, tetapi dapat/bahkan pasti terjadi. Cenderung terjadi peningkatan kejadian kebakaran tiap tahun. Jika kita mengenal dan terlibat melayani bersama Institusi Pemadam Kebakaran, kita akan jelas memahami, mengerti dan bahkan mampu mengambil bagian dalam menyelesaikan berbagai tantangan serta permasalahan baik yang dihadapi Institusi Pemadam Kebakaran secara internal, masyarakat, nasional dan internasional.

Apa yang sudah diperbuat dan dilayani Institusi Pemadam Kebakaran Indonesia selama 99 tahun menjelang 100 tahun di tahun 2019 mendatang? Apa dampak pelayanan Institusi Pemadam Kebakaran Indonesia? Untuk itulah tulisan ini akan menggali dan mengangkat refleksi menjelang 100 tahun Institusi Pemadam Kebakaran Indonesia.

Refleksi terhadap permasalahan di atas menjelang 100 tahun Institusi Pemadam Kebakaran Indonesia, yaitu kebakaran adalah risiko. Kebakaran pada awalnya bukan bencana. Namun ketika dampak kebakaran sangat besar, kebakaran dapat menjadi bencana yang sangat besar. Risiko berbasis pencegahan, sedangkan bencana berbasis penanggulangan. Hal ini sangat filosofis. Mengapa? Karena makna filosofis ini menjadi dasar penyusunan Program Kerja di lingkungan pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Apakah pemerintah memprioritaskan Institusi Pemadam Kebakaran dalam merespon risiko maupun bencana? Dalam praktiknya, Institusi Pemadam Kebakaran bersinergi dengan beberapa pihak: BNPB, BPBD, BASARNAS, SATPOL PP bahkan dengan pihak Pemda maupun masyarakat. Dimana dan bagaimana positioning Institusi Pemadam Kebakaran Indonesia baik yang ada di tingkat pusat dan di tingkat daerah?

Bagaimana kualifikasi jabatan fungsional (Jafung) Tim Pemadam Kebakaran mulai dari driver of fire truck/car sampai eselon tertinggi dalam Institusi Pemadam Kebakaran? Kita sungguh bersyukur saat ini Kemendagri RI bersama KemenPan RB RI dan juga para ahli/pemerhati bahaya kebakaran telah mendorong pengesahan Jabatan Fungsional Institusi Pemadam Kebskaran. Kita harus mendukung hal ini. Kita berikan apresiasi tinggi kepada Menteri Dalam Negeri RI beserta jajarannya dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi RI beserta jajarannya atas dukungan dan komitmen untuk dapat disahkannya Jabatan Fungsional (Jafung) Tim Pemadam Kebakaran Indonesia.

Bagaimana implementasi pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran di Indonesia? Bagaimana komitmen di tingkat pusat dan daerah? Sudahkan semua daerah memiliki dan menjalankan Perda Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran di 34 Provinsi dan 540 Kabupaten/Kota?

Dalam rangka penataan tuang di tingkat pusat dan daerah, apakah respon terhadap bahaya kebakaran sudah diimplementasikan secara baik? Sudahkah hal ini diintegrasikan dalam RUTR (Rencana Umum Tata Ruang), RDTR (Rencana Detail Tata Ruang), RBWK (Rencana Bagian Wilayah Kota)? Sudahkah perangkat hukum penunjang telah ada dan diimplementasikan?

Dalam rangka pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran apakah di daerah telah disahkan dan diimplementasikan RISPK (Rencana Induk Sistem Proteksi Kebakaran)?

Bagaimana kualitas keandalan berbagai proyek konstruksi (bangunan dan bangunan gedung) terhadap bahaya kebakaran? Bagaimana FSD (fire safety design) telah diimplementasikan dalam keandalan penyelenggaraan proyek konstruksi sampai diterbiltkannya SLF (Sertifikat Laik Fungsi)?

Apakah human system dalam rangka pencegahan dan penanggulangan bahaya kebakaran sudah berperan secara optimal?

Apakah fire risk nanagement sudah diterapkan dalam penyelenggaraan proyek konstruksi dalam mengantisipasi bahaya kebakaran?

Belum adanya form of contract yang jelas dan tegas dalam proses penyelenggaraan proyek konstruksi di Indonesia, bagaimana kondisi ini memastikan tentang perwujudan keselamatan terhadap bahaya kebakaran di Indonesia?

Apakah sudah diimplementasikan fire risk treatment melalui asuransi jebakaran di Indonesia? Mengingat di Indonesia baru ada dua model asuransi yaitu asuransi jiwa dan asuransi kerugian, bagaimana hal tentang asuransi jebakaran?

Untuk memastikan kepastian hukum terhadap respon bahaya kebakaran di Indonesia, kita harus segera menerbitkan Undang-Undang Kebakaran yang bertujuan mewujudkan keselamatan terhadap bahaya kebakaran melalui perwujudan program: pencegahan, pemadaman, penanggulangan, pengendalian yang sistematis dan terstruktur.

Refleksi di atas harus serius kita respon secara cepat. Semua pihak harus mendukung dan menindaklanjuti secara nyata. Kiranya pemerintah dan masyarakat dapat menjadi motor dan magnet untuk mewujudkan keselamatan terhadap bahaya kebakaran.

Selamat menjelang 100 tahun Institusi Pemadam Kebakaran Indonesia.***

Guru Besar Universitas Pelita Harapan