Pendidikan

Warek UMT Buka Musda Ikma PGSD Indonesia 2019

PantauNusantara.com KOTA TANGERANG — Musyawarah Daerah Ikatan Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (Musda Ikma PGSD) Indonesia — Daerah I Wilayah II — dibuka di kampus UMT Jl Perintis Kemerdekaan – Cikokol, Kota Tangerang, Jumat siang 22 Maret 2019. Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Tangerang (Warek III UMT) Dr H Desri Arwen MPd membuka Musda tersebut.

Dalam amanatnya, Warek III UMT Desri Arwen mengungkapkan Musda ini bagian dari menjalin dan mempererat silaturahmi. Di sini, sambung Warek III, di acara Musda ini kumpul mahasiswa PGSD dari Banten, DKI dan Jawa Barat.

Sementara itu Ketua Pelaksana Musda, Shintya mengatakan, Musda yang mengusung tema Satu dalam Kreativitas ini berlangsung selama tiga hari (22 -24 Maret 2019) dan diikuti 15 perguruan tinggi dari Banten, DKI Jakarta serta Jawa Barat.

“Selama pelaksanaan Musda, para peserta mengikuti berbagai kegiatan, di antaranya pemilihan ketua, seminar serta city tour serta pelantikan pengurus periode 2019 – 2020,” jelas Ketua Pelaksana Musda, Shintya saat jumpa pers usai acara pembukaan Musda di kampus UMT.

Ketua Himpunan Mahasiswa (Hima) PGSD FKIP UMT, Zaenab Fuji Rahayu menambahkan, suatu kebanggaan bagi UMT menjadi tuan rumah pelaksanaan Musda ini. UMT menjadi tuan rumah Musda berdasatkan hasil Musda di Uhamka Jakarta tahun 2018 lalu.

“Sebetulnya UMT diminta menjadi tuan rumah Musda pada tahun lalu. Ketika itu karena UMT baru bergabung dengan IKMA PGSD, kami belum siap, maka gantinya adalah Uhamka. Ketika Musda di Uhamka, kembali UMT diminta menjadi penyelenggara Musda. Maka hari ini diselenggarakan di UMT,” ungkap Zaenab Fuji Rahayu.

Ditambahkannya, dalam musyawarah ini membahas peraturan yang ada di pusat. Diharapkan ke depannya aspirasi guru di daerah bisa disampaikan kepada pemerintah melalui lembaga ini.

“Inti acara ini memilih pengurus baru periode 2019 – 2020,” ungkapnya.***
Ateng Sanusih | Yahya Suhada

Syafana Festival 2019 Dibuka Kadis Pendidikan Kabupaten Tangerang

PantauNusantara.com KABUPATEN TANGERANG – Sebanyak 2500 siswa dari 85 sekolah Banten – Jakarta menyemarakkan Syafana Festival (Syafest) 2019 yang digelar di kampus Syafana Islamic School BSD City Secondary, Lengkong Kulon, Pagedangan, Kabupaten Tangerang, Banten. Syafest 2019 ini digelar selama delapan hari (16 – 23 Februari 2019) dibuka Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang, Drs H Hadisa Masyhur MM, Sabtu pagi 16 Februari 2019.

Beragam lomba digelar dalam Syafest 2019 ini, futsal, basketball, ratoeh jaroe, tahfizh, photography, English speech, English debate, science olympiade, match olympiade. Syafest 2019 juga menampilkan talk show yang menghadirkan Rintik Sedu, Adam Alfares serta special performance Raynaldo Wijaya. Gelaran Syafest ini memperebutkan total hadiah Rp100 juta.

Managing Director Syafana Islamic School, H Nanang Firdaus Masduki Lc menyebutkan seluruh kegiatan Syafest 2019 ini diinisiasi oleh OSIS. Mereka yang menyusun program, mencari sponsor serta mengundang peserta. Kegiatan ini, jelas Nanang Firdaus Masduki di antaranya untuk menjalin silaturahmi antara sekolah, melatih berorganisasi anak-anak siswa, belajar fair play dalam berkompetisi. Acara Syafest ini agenda dua tahunan.

“Kalau para pesertanya menambah teman, berarti acara ini sukses. Semua lomba di Syafana ini dilakukan secara jujur dengan juri dari luar,” ungkap Nanang Firdaus Masduki.

Ditambahkan Nanang Firdaus, gedung sekolah Syafana Islamic School dari awal didesain menjadi sekolah menyenangkan. Sekolah didesain dengan banyak ruang terbuka agar anak sekolah betah di sekolah. Sekolah jadi rumah kedua bagi para peserta didik.

Dalam acara pembukaan Syafest 2019 tersebut Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan Kabupaten Tangerang, Hadisa Masyhur memuji penampilan dari para anak didik Syafana Islam School. Menurut Kadis Pendidikan, penampilan dan kegiatan Syafest merupakan pendidikan karakter yang berkualitas dengan pola Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM).

Dikatakan Hadisa Masyhur, Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar telah menggulirkan program Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM). Pendidikan karakter mutlak diterapkan dalam kegiatan ajar mengajar.

“Dalam GSM anak-anak digerakkan berkreatifitas dan diskusi. Guru ke depan hanya sebagai fasilitator kretifitas anak. Di Syafana GSM sudah berjalan. Ke depan kita harus tetap semangat dengan karakter yang kuat,” jelas Kadis Pendidikan Kabupaten Tangerang, Hadisa Masyhur.

Pendidikan, sambung Hadisa menjadi tanggungjawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. Partisipasi masyakarat diharapkan untuk terus menopang pendidikan. Salah satu wujud partisipasi masyarakat yakni Yayasan Syafana Islamic School dapat memberikan sumbangsihnya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Sekolah merupakan pertukaran budaya. Sekolah pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Sekolah sebagai laboratorium. Sekolah lembaga tempat menumbuhkan jiwa sportivitas. Syafest bukti nyata membangun keseimbangan jiwa peserta didik. Peserta diharapkan dapat hidup mandiri membangun karakter dan memupuk rasa persatuan. Kegiatan ini sejalan dengan kurikulum pengembangan jiwa sportivitas dan membangun karakter,” beber Hadisa Masyhur.

Pembukaan Syafana Festival 2019 ini dihadiri seluruh jajaran Syafana Islamic School BSD City Secondary, Kabid SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang Fahrudin, Pengawas SMA  dan para orang tua siswa.***

Ateng Sanusih

FH UPH Beri Learning Experience Baru

PantauNusantara.com KABUPATEN TANGERANG – Learning experience menjadi kunci di acara The Philip C Jessup national round Law Moot Court yg brlangsung di UPH karawaci pada 1-3 Februari 2019. Sebagai tuan rumah UPH dipercaya adakan kompetisi bergengsi dan berhasil memberikan dobrakan yang mampu segarkan kompetisi bergengsi yang sudah berlangsung 17 tahun ini.

Fakultas Hukum Universitas Pelita Harapan (FH UPH) patut berbangga berhasil terpilih menjadi host atau ketua pelaksana The Philip C Jessup National Round Law Moot Court yang berlangsung pada 1-3 Februari 2019 di UPH Karawaci. Tentunya dengan kesempatan ini, Tiffany Revilia Jonan Mahasiswa FH UPH 2016, sebagai ketua komite pelaksanan (National Administrator) berhasil buktikan penyelenggaraan Jessup National Round dengan strategi baru melalui Learning Experience. Learning Experience ini diwujudkan melalui seminar sebagai acara pembuka di Kementrian Luar Negeri Indonesia dengan menghadirkan Direktur Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Dr Ir Damos Dumoli Agusman SH MA yang membahas mengenai seputar hukum internasional.

Tidak hanya itu, Learning Experience ini juga dapat dirasakan bagi para observer yang hadir. 2019 menjadi tahun dengan jumlah observer terbanyak dibanding tahun sebelumnya, yaitu sebanyak 80 observer dari 17 universitas. Observer sendiri berbeda dengan competitor, dimana observer yang datang tidak berkompetisi melainkan melakukan pengamatan. Biasanya observer merupakan partisipan yang belum pernah mengikuti kompetisiJessup, sehingga harapannya di tahun berikutnya mereka dapat menjadi kompetitor.

Selain berbangga menjadi tuan rumah dan ketua komite, UPH juga bersyukur dapat meraih beberapa penghargaan di kesempatan ini yaitu meraih penghargaan ‘Best Combined Memorial’ dan ‘Best Oralist’ yang diraih oleh Michael Amos Djohan FH UPH 2016. Seluruh kerja keras yang dilakukan tim FH UPH ini, diakui juga oleh Athalia Soemarko Director of ISIL (Indonesian Society of International Law).

“Menjadi host dalam Jessup ini tentunya UPH harus melalui serangkaian tahapan. Setiap akhir dari Jessup sebelumnya terbuka kesempatan universitas memajukan proposal untuk menjadi Host Jessup berikutnya. Selain proposal perwakilan universitas juga harus melalui interview. Dari proposal dan tahapan interview, kami lihat UPH paling matang. ISIL menilai kematangan perwakilan dari nama-nama yang diajukan oleh fakultas sebagai calon national administrator dan core team, pernah mengikuti Jessup sebelumnya. Tiffany sebagai national administrator dan core team dinilaimemiliki pengalaman itu. Dari sisi interview, ISIL juga meminta visi setiap calon apa yang mau dibuat dan berbeda. UPH memberikan dobrakan baru Dengan opening di Kemlu dengan menghadirkan Dirjen Dr. Ir. Damos sebagai narasumber. Ini suatu kerja FH UPH yang baik,” ungkap Athalia.

The Philip C Jessup International Round sendiri merupakan kompetisi bergengsi di Indonesia. Baik Athalia maupun Tiffany menekankan bahwa kompetisi ini merupakan ajang terbesar yang selalu disasar mahasiswa dari fakultas hukum universitas di Indonesia. Dengan perbandingan 1:8, setiap tahunnya Indonesia berhak mengirimkan 2 juara dari National Round sebagai perwakilan Indonesia menuju international round di Washington DC. Tahun ini dengan 20 peserta yang ikut serta sebagai competitor di national round, maka Indonesia berhak mengirimkan 2 perwakilan menuju International Round.

Tentunya menjadi host kompetisi bergengsi ini memberikan banyak manfaat bagi UPH. Diakui Tiffany, sisi networking menjadi manfaat yang paling dirasakan. Menurutnya, melalui ajang ini ia dan seluruh komite FH UPH dapat bertemu dengan beragam pihak. Mulai dari bertemu dengan mahasiswa antar universitas, hingga kesempatan bekerja sama dengan institusi nasional dan internasional seperti ISIL maupun ILSA (International Law Students’ Association), serta praktisi hukum juga akademisi. Harapannya dengan jejaring ini, komunitas mooting UPH semakin berkembang.

Menambahkan seluruh penjelasan, Irsan sebagai perwakilan dari FH Universitas Padjajaran berharap melalui Jessup 2019 yang mengambil isu ‘Cultural Rights’ ini baik competitor maupun observer semakin diperkaya wawasannya terkait hukum internasional dan isu yang banyak diperbincangkan Universitas padajajaran sendiri di tahun ini terpilih menjadi wakil pelaksana Jessup National Round mendampingi UPH.

Setelah melalui serangkaian tahapan dalam Jessup National Round ini, Universitas Indonesia berhasil menjadi Juara 1 dan Universitas Airlangga sebagai Juara ke-2. Kedua tim ini berhak mewakili Indonesia pada The Philip C Jessup International Round di Washington DC pada 31 Maret – 6 April 2019.***

Ateng San

Mahasiswa UPH Diajak Ciptakan Pemilu Aman, Damai dan Sejuk

PantauNusantara.com KABUPATEN TANGERANG – Mahasiswa Universitas Pelita Harapan (UPH) harus menjadi pelopor pemilu damai. Mahasiswa perlu proses demokrasi.

Penegasan itu dilontarkan Rektor UPH, Jonathan L Parapak dalam diskusi Peran Mahasiswa Menuju Pemilu Aman, Damai dan Sejuk Demi Terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia di kampus tersebut Selasa pagi 27 November 2018.

Dikatakannya, di UPH bagian yang penting yakni pendidikan karakter. Jonathan L Parapak mengaku sangat bersyukur Polri datang ke kampus UPH memberi pencerahan kepada mahasiswa untuk dipersiapkan mengikuti Pemilu.

“Saya yakin mahasiswa siap untuk mengikuti itu, untuk Pileg dan Pilpres yang aman dan damai,” jelas Rektor UPH.

Para mahasiswa UPH, sambung Jonathan L Parapak siap untuk mendukung Pilpres dan Pileg yang aman dan damai. Polri memberikan pencerahan di UPH untuk menghadapi pemilu yang harus berjalan damai sejuk merupakan bagian penting demokrasi

“Kita semua yakin, negara ini ada empat pilar yakni UUD, Pancasila, NKRI, Bhineka Tunggal Ika. Kita yakin bangsa Indonesia memiliki masa depan yang bisa membawa sejahtera bangsa,” terang rektor.

Dalam Pemilu ini, sambung rektor jajaran UPH ingin ikut mendukung Pileg dan Pilpres yang aman damai sejuk.

“Di UPH bila ada yang melakukan kekerasan fisik maupun non fisik langsung kami keluarkan. Ini adalah pendidikan karakter. Pilpres dan pileg akan jadi bagian penting dalam mengantarkan bangsa Indonesia menuju 10 negara besar di dunia ini,” ungkap Jonathan L Parapak.

Dalam kesempatan itu rektor mengajak seluruh civitas akademika UPH untuk dukung Pemilu untuk menuju Indonesia era baru.***

• Ateng Sanusih